Rabu, 15 Februari 2012

Di Ujung Tanduk

Ku raih telepon genggam
Tak ku dapati balasanmu
Ku geletaki begitu saja
Kemudian baru berderinglah

Ingin ku acuhkan
Namun tangan ini tetap menyambarnya
Aku yakin pembicaraan ini berakhir pertengkaran
Yaa benar saja, lalu terjadi laah

Kesalahan nyaris selalu ku buat
Kata maaf selalu terucap
Perubahan sering ku lontarkan
Hingga ku lelah harus mengucapkannya

Batin, sedih, bersalah
Kini ku rasakan pahitnya
Manisnya telah hilang
Dilarut oleh panasnya keegoisan

Rasanya lelah selalu begini
Begitu pun kau merasakannya
Sejenak terlintas dipikiranku
Bahwa rasa sayangmu mulai berkurang
Segeralah ku hapus pikiran jahat itu di benakku

Sudahi saja pertengkaran ini selamanya
Ini berarti?? Yaa, ku yakin kamu memahaminya
Namun bibir ini terasa kelu
Tak sanggup ku menyatakan
Aku bertahan karena ku yakin rasa ini

Mungkin batu didepan kita terlalu besar
Hingga sulit sekali dilewati
Jika memang rasa sayang masih ada
Batu itu akan terlihat seperti debu
Ataukah memilih untuk menyerah??
Dan menyudahi pertengkaran untuk selamanya??

Seperti telur diujung tanduk
Semuanya hanya tinggal kemungkinan
Menunggu pasrah waktu terjatuh
Atau tetap berada diujung
Kemudian kembali ke titik awal yang baru !!!!
There's a choice to solve our problem :((

Tidak ada komentar:

Posting Komentar