Hallo kamu, my stranger, apa kabar?
Tidak kah kamu merasa aneh ketika kita saling bertanya tentang kabar, itu berarti kita sudah punya jarak bukan?
Katamu, ketika kita masing-masing menanyakan tentang kabar, itu artinya kita sama-sama peduli, begitukah menurutmu? Tapi tidak bagiku, ahh tapi yasudah lah..
Pertanyaanku tentang bagaimana kabarmu yang kemarin adalah untuk yang terakhir ku ingin mengetahui keadaanmu.
Tapi ternyata sebuah niat baik menjadi sia-sia, disitulah rasa kekecewaan muncul. Bukan karena hal apapun, tapi tahukah kamu, seberapa kerasnya aku berpikir untuk memulainya terlebih dahulu?
Maafkan diriku, aku memang pendendam! Ini bukan berarti yang jahat harus dibalas dengan hal jahat. Tapi menjaga perasaan diri sendiri itu penting juga. Hey, itu yang terakhir. Aku harus belajar untuk tidak peduli padamu lagi mulai dari sekarang.
Kelak aku akan menghubungimu lagi, disaat aku merasa hati telah tertidur.
Aku pernah berdoa kepada Tuhanku, bahwa aku ingin hidup yang berwarna. Dan tanpa sadar, Tuhan telah mengabulkan doaku, melalui kamu, hidupku memang berwarna, tapi hanya bersifat sementara.
Kenapa aku hanya berdoa ingin hidupku berwarna saja, kenapa tidak kemarin aku berdoa dengan egois meminta untuk selamanya? Tapi Tuhan, aku sudah bersyukur, Engkau sudah memberikan hidupku berwarna dipenghujung akhir tahun ini, walaupun hanya sementara.
Kamu, katanya ingin jadi reminder aku?
Katanya mau ngingetin hal-hal yang belum aku tahu tentang dunia ini. Masih berlakukah itu?
Kamu, katanya will decrease smoking when with me. Tapi kapan lagi with me-nya?
Ketika semua kata nanti, lagi, dan akan, semuanya hanya menjadi text untuk dibaca, disitulah aku sadar bahwa tidak akan ada lagi kata kita untuk bertemu.
Ketika terucap kata darimu sesaat setelah meneguk kopi (aku ingat betul itu), "Kapan kita akan bertemu lagi?" saat perjumpaan kita yang pertama.
Lalu aku menjawab, "Kita ajah belum pulang, udah ngomongin kapan lagi mau ketemu."
Hallo, aku sekarang menyesal waktu itu mengatakan hal ini kepadamu. Kenapa tidak langsung ku iyakan dan menentukan pertemuan kita selanjutnya. Jadi memang benar, kesempatan kedua itu tidak ada. Aku menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan pertama.
Kamu sudah banyak menyita waktuku. Sampai-sampai aku terlalu fokus pada dirimu.
Sampai-sampai ku abaikan siapapun yang hendak ingin mengenalku, karena ku pikir, mengenalmu tak akan ada habisnya.
Tahukah kamu hal ini?;)
Ketika aku terlalu fokus pada dirimu, hingga akhirnya ku abaikan yang lainnya.
Tapi, tenang, aku tidak akan marah.
Sampai sekarang, aku merasa kamu tidak perlu bertanggung jawab atas perasaan ini.
Karena kamu memang tidak pernah memberi harapan lagi, setelah itu, yaa, setelah beberapa hari pertemuan kita. Jadi, aku tidak akan menyalahkanmu dan tidak akan meminta tanggungjawabmu. Aku menyalahkan diriku sendiri, karena aku mempunyai harapan dan ekspetasi yang berlebihan. Yang seharusnya aku ngga boleh banyak terlalu berharap.
Dan ini pasti salahku juga! Mungkin kamu bingung ingin memulai percakapan denganku bagaimana, atau seperti apa. Karena kamu tahu betul, aku paling benci ditanya, "sedang apa, lagi apa, makan apa, lagi dimana".
Terkadang sangat lucu saat kamu meminta izin ketika ingin bertanya sedang apa git? 😂
Kamu pernah bilang, "Kalau tidak akan bersama, kenapa dipertemukan?"
Sekarang aku tahu jawabannya loh.
Karena Tuhan menginginkan kita belajar dan bertemu dengan orang yang salah terlebih dahulu, baru bertemu dengan orang tepat.
Katamu, kamu benci perpisahan. Tapi nyatanya, kamu yang menjaga jarak, dan terus memberi jarak. Apa kamu sadar, tanpa sadar kamu sudah melakukan hal yang kamu benci?
Tapi aku kagum, ketika kamu dua kali mengucapkan selamat beribadah untukku;)
Dan sekarang, ketika aku pernah terbiasa denganmu, pernah terbiasa saling mengingatkan, pernah terbiasa bercerita tentang banyak hal, tapi kamu tidak pernah mengajarkan aku terbiasa tanpa kabarmu, atau terbiasa tanpa candamu atau terbiasa tanpa obrolanmu.
Aku masih merasa bersyukur, kita pernah bertemu. Aku juga ngga menyangka, kamu bersifat sementara. Yang bersifat sementara ternyata memang indah yaaa. Mungkin kalau selamanya, belum tentu seindah yang kayak sementara ini. Iyaa aku sok tahu, toh kita juga belum pernah selamanya hehe
Terimakasih kamu.
Aku senang berkenalan denganmu.
Aku senang bisa bertemu dengan orang seperti dirimu.
Aku senang bisa belajar banyak hal darimu.
Aku tidak menyesal pernah mengenalmu.
Rasanya sangat sebentar, tapi ku merasa sudah mengenalmu lama sekali.
Aku merasakan banyak hal baik, yang telah ku lalui dengan hadirnya dirimu ditengah-tengah hecticnya hidupku ini.
Aku ngga menyangka, ternyata kamu hanya bersifat sementara.
Memang tak terucap kata pisah, tapi seperti yang pernah ku katakan kepadamu. Aku pendendam, tapi bukan berarti hal yang buruk harus dibalas juga dengan hal buruk.
Aku harus menjaga perasaanku juga ☺
Tertanda,
Your stranger


